Dalam sebuah riwayat diceritakan bahwa Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam bersabada: ”Setiap dosa-dosa, Allah Ta’ala mengakhirkan (hukumannya) seperti yang Dia kehendaki hingga hari kiamat. Kecuali durhaka kepada orangtua, sesungguhnya Allah akan mempercepat (hukuman) bagi yang melakukannya, saat hidup di dunia sebelum meninggal.” (Riwayat At Thabarani dan Al Hakim, dishahihkan oleh Al Hakim dan As Suyuthi).
Sore
itu di sebuah rumah di komplek perumahan mewah, terdengar ribut-ribut.
Sepertinya ada seseorang laki-laki yang sedang marah dengan kalimat kasar
kepada seorang wanita. Sesekali terdengar barang pecah yang mungkin
dibantingnya.
15 menit kemudian tampak seorang wanita tua yang menangis keluar dari dalam rumah tersebut membawa sebuah tas besar. Berjalan dengan sangat berat karena beban tas tersebut atau mungkin karena tidak tahu harus pergi kemana
Wanita
tersebut oleh para tetangga dipanggil Mrs. Enny, seorang janda yang berusia
kurang lebih 67 tahun, ibu dari Nico yang menghuni rumah tersebut.
Nico
adalah seorang Direktur di sebuah perusahaan manufacture di pinggir kota
Jakarta. Sebagai seorang direktur Nico hanya memiliki sedikit waktu untuk
keluarga, selebihnya dihabiskan di tempat kerja.
Istri
Nico pun sama seperti suaminya, seorang wanita karir yang lebih banyak
menghabiskan waktunya untuk pekerjaan. Seorang wanita cantik berambut pendek,
jika berbicara terdengar tegas dengan pandangan mata yang tajam. Kemungkinan karakter
itu terbentuk karena kebiasaan dalam mengatur anak buah nya di tempat kerjanya.
Rumah
mereka hanya berfungsi sebagai tempat istirahat saja. Saat di rumah yang
seharusnya menjadi quality time, tidak dilakukannya, bahkan untuk makanpun lebih
sering mereka lakukan di luar rumah. Setiap pulang kerja, sampai rumah mandi,
dan masuk kamar tidur, kalaupun belum tidur mereka akan lebih sibuk dengan laptop
untuk menyelesaikan pekerjaan yang belum selesai.
Mrs. Enny sebenarnya seorang ibu yang baik, meskipun sebenarnya kemampuan fisiknya sudah menurun, namun dia masih terlihat mengerjakan pekerjaan rumah, memasak, mencuci, dan membersihkan rumah. Pekerjaan itu dilakukannya sendiri tanpa ada asisten rumah tangga yang membantunya, karena memang Nico bukan type orang yang mudah percaya kepada orang asing. Namun karena kekhawatiran Nico tersebut, justru mengorbankan ibunya untuk mengerjakan pekerjaan itu semua.
Suatu
ketika Mrs Enny terlihat seperti kurang sehat, wajahnya yang biasanya banyak
senyum, menyapa siapapun yang lewat depan rumah. Tetapi hari itu dia lebih
banyak diam, seperti sedang menahan rasa sakit atau kurang nyaman.
Ternyata hal itu yang memicu timbulnya pertengkaran antara Nico dengan ibunya. Ibunya yang sedang tidak sehat, meminta Nico untuk meriksa ke dokter. Namun karena Nico merasa pekerjaannya lebih penting dari segalanya, permintaan Mrs. Enny tersebut tidak pernah disanggupi, hingga membuat ibunya jengkel dan marah.
Dan Nico yang lepas kendali karena pengaruh alkohol kemudian mengusir ibunya pergi dari rumah tersebut. Dan sekarang entah ke mana Mrs. Enny pergi, tidak ada yang mengetahuinya termasuk Nico. Meskipun Nico sempat membuat laporan orang hilang ke polisi, sampai sekarang Mrs Enny belum dapat ditemukan.
Dua tahun berselang, Nico saat pulang ke rumah dalam perjalanan mengalami
kecelakaan yang membuatnya meninggal dengan cara yang mengenaskan. Kakinya
hancur dengan kondisi tersadar beberapa jam sebelum malaikat maut menarik
ruh-nya. Dengan ekspresi kesakitan Nico tidak bisa mengucapkan sebuah kata pun,
termasuk mengucap “Laa ilaaha ilallaah”.
Mulutnya terkunci rapat, sementara darah dan serpihan daging kakinya berhamburan di dalam mobil. Orang-orang berusaha mengeluarkannya dari dalam mobil namun karena terjepit kuat, Nico masih tertahan di belakang kemudinya dengan rasa sakit yang sangat menyiksanya, sampai kemudian benar benar meninggal.
Cerita di atas bukan kisah nyata, tetapi kejadian seperti itu sangat mungkin terjadi di dalam kehidupan kita.
Hukuman Allah bisa jadi akan dipercepat tidak menunggu datangnya kiamat, bisa terjadi saat masih hidup, atau saat di dalam gelapnya kuburan. Dan hukuman yang seperti apa, kita tidak akan pernah mengetahuinya sampai Allah menurunkannya untuk orang-orang yang durhaka kepada orang tuanya, terutama pada ibu kandung yang melahirkannya.
Pada zaman Nabi pernah terdapat kisah tentang Alqomah yang durhaka kepada ibunya. Suatu ketika Alqomah pernah menyakiti hati ibunya, dan ibunya berkata: “Saya tidak ridha dengan sikap anakku Alqomah”. Hingga kemudian saat Alqomah menderita sakit keras, dan menjelang sakaratul maut, mulutnya terkuci rapat tidak mampu untuk mengucapkan “Laa ilaaha ilallaah” meskipun para sahabah nabi sudah mendiktenya kata demi kata, tetap saja mulut Alqomah terkunci rapat dengan nafas yang tersengal-sengal.
Para sahabah kemudian memanggil Rasulullah, meminta
beliau untuk melepaskan Alqomah dari Sakaratul Maut. Mengetahui kondisi
Alqomah, Rasulullah meminta sahabah untuk mencari ibu kandung Alqomah dan
memintakan maaf untuknya.
Setelah bertemu, ternyata ibunya masih tetap belum memaafkan karena begitu sakit hati dengan sikap perilaku Alqomah yang keterlaluan, telah melupakan ibunya, dan menomor duakan ibunya dibanding istri Alqomah.
Dengan berbagai cara para sahabah mencoba untuk meluluhkan hati ibunya untuk memberikan maaf, supaya Alqomah dapat segera meninggal, namun tetap saja ibunya belum bisa memberikan maaf.
Akhirnya Rasulullah meminta dicarikan kayu untuk membakar Alqomah, untuk melemahkan hati ibu Alqomah. Dan ternyata cara tersebut membuahkan hasil, ibu Alqomah bersedia datang dan memberikan maaf kepada anaknya yang sedang sakaratul maut. Dan Alqomah akhirnya dapat mengucapkan kalimat “Laa ilaaha ilallaah” sebelum meninggal.
Kisah-kisah seperti itu dapat kita jadikan contoh dan inspirasi
dalam kehidupan islami, untuk membentuk karakter dan attitude yang baik sesuai
ajaran islam. Sebagai anak yang baik, kita harus menghormati orang tua,
terutama ibu yang melahirkan kita. Jangan sampai menyakiti hatinya, jangan kita
membentaknya, apalagi sampai mengusir.
Ingatlah bahwa: “Innallaha ala kulli syai’in qadir”, Allah maha kuasa atas segala sesuatu. Bukan sesuatu yang sulit jika Allah sudah berkehendak untuk merealisasikan.
Wasalamu’alaikum
Tidak ada komentar:
Posting Komentar