Sabtu, 12 September 2020

KH. Sholeh Darat Mahaguru Para Ulama Besar di Nusantara



KH. Sholeh Darat Mahaguru Para Ulama Besar Nusantara


Terlahir dengan nama Muhammad Sholeh bin Umar Al Samarani di Kedung Cumleng, Kecamatan Mayong, Kabupaten Jepara pada tahun 1820 Masehi, beliau ini yang kemudain dikenal sebagai KH. Sholeh Darat atau Mbah Sholeh Darat. Ayah beliau Kyai Umar Samarani adalah ulama sekaligus pejuang di masa perjuangan Pangeran Diponegoro melawan penjajah Belanda. KH. Sholeh Darat mendapatkan pendidikan agama dari ayah beliau dan beberapa ulama di Jawa, antara lain: KH. Syahid dari Kajen, KH. Ishaq Damaran, Kyai Abdullah Muhammad Hadi Baquni, Kyai Ahmad Bafaqih Ba’alawi, Kyai Abdulghani Bima, KH. R. Asnawi Kudus, Kyai Abu Darda pengasuh Pondok Pesantren Dondong, Mangkang.

Pada suatu kesempatan  beliau berangkat ke Mekah selain untuk menunaikan ibadah haji juga untuk berguru pada ulama-ulama di Mekah. Beberapa guru beliau di Mekah, antara lain: Syech Yusuf Al Misri, Syech Muhammad Al Muqri, Syech Sayid Muhammad Zaini Dahlan, Syech Ahmad Nahrowi. Dengan berbekal kealiman dan sanat keilmuan dari guru-guru beliau, KH Soleh Darat sempat menjadi pengajar selama berada di Mekah, kebanyakan murid beliau di Mekah berasal dari Melayu dan Indonesia.

Saat kepulangan KH. Sholeh Darat ke Indonesia diperkirakan pada tahun 1880, KH. Sholeh Darat menetap dan mengajar di sebuah pesantren di daerah Darat, Semarang Utara yang diasuh oleh KH. Murtadho yang kemudian menjadi mertua beliau. Selama di Semarang telah banyak karya tulis yang dibuat beliau dengan menggunakan penulisan huruf pegon. Dengan metode penulisan menggunakan arab pegon tersebut karya tulis beliau menjadi lebih mudah dipahami oleh murid-muridnya, sehingga motivasi masyarakat untuk belajar islam kepada beliau menjadi lebih tinggi. Murid atau santri beliau tidak hanya dari daerah sekitar Semarang saja, namun berasal dari berbagai kota di Jawa. Beberapa ulama besar yang tercatat pernah menjadi murid dari KH. Sholeh Darat antara lain KH. Hasyim Asyari pendiri Nahdhatul Ulama, KH. Ahmad Dahlan pendiri Muhammadiyah, Mbah Munawir Krapyak, Mbah Dalhar Watucongol, Mbah Dimyati Termas, KH. Dahlan Termas, KH. Amir Idris Pekalongan, KH. Abdus Syakur Senori, KH. Yasir Jekulo, KH. Sya’ban Semarang, Kyai Idris Jamsaren, dan salah satu pahlawan terkenal wanita RA. Kartini.

Dalam riwayat yang lain pada suatu ketika KH. Sholeh Darat mengisi pengajian di rumah Bupati Jepara yang juga sebagai paman dari RA. Kartini, saat itu beliau menjelaskan tafsir Surat Al Fatihah dengan bahasa Jawa, sehingga para peserta pengajian saat itu termasuk RA. Kartini benar-benar paham makna Surat Al Fatihah. Momen tersebut yang kemudian memotivasi RA. Kartini untuk sering mengikuti pengajian-pengajian yang diisi oleh KH. Sholeh Darat. Suatu waktu RA. Kartini memberanikan diri memohon kepada KH. Sholeh Darat untuk menterjemahkan isi Al Qur’an ke dalam bahasa Jawa, supaya masyarakat muslim di jawa dapat memahami tentang isi kandungan Al Qur’an. KH. Sholeh Darat kemudian menyanggupi permintaan RA. Kartini tersebut dengan menulis sebuah Kitab yang kemudian dinamakan Kitab Tafsir Faidlur Rahman Fi Tarjamati, yang isinya tentang tafsir dari surat-surat yang ada di dalam Al Qur’an. Dalam tafsir tersebut ditulis dengan menggunakan Arab Pegon, yaitu metode penulisan dengan huruf hijaiyah, namun tata bahasanya menggunakan bahasa Jawa, dengan maksud masyarakan muslim di Jawa lebih mudah dalam memahami isi kandungan Al Qur’an melalui tafsir terjemahan tersebut. Namun KH. Sholeh Darat sudah keburu wafat, sebelum sempat  menyelesaikan karya tersebut.

Tahun 1903, beliau wafat dan dimakamkan di Bergota, Semarang. Semenjak kewafatannya tidak ada penerus beliau yang meneruskan aktivitas pendidikan pesantren di Darat tersebut. Salah seorang santri beliau yaitu Kyai Idris mengajak santri-santri yang tersisa pindah ke Solo untuk menghidupkan Pesantren Jamsaren. Saat ini peninggalan KH. Sholeh Darat yang masih berdiri adalah Masjid Kyai Sholeh Darat, di Kampung Darat, Dadapsari, Semarang Utara. Sayangnya bangunan tersebut sudah dilakukan renovasi beberapa kali, sehingga penampakannya sudah tidak terlihat seperti masjid tua, sepintas orang tidak akan tahu bahwa bangunan Masjid tersebut memiliki catatan sejarah yang luar biasa, yang telah melahirkan ulama-ulama besar di tanah Jawa.