Senin, 17 Agustus 2020

Arab Pegon Menolak Punah

Arab Pegon atau huruf pegon secara definisi adalah metode penulisan dengan huruf Arab namun tata pengucapannya memakai bahasa lokal. Oleh sebab itu Arab Pegon ini dianggap juga sebagai huruf Arab yang menyimpang dari literatur bahasa Arab. Penulisan Arab Pegon ini biasanya tanpa harokat atau gundul.

Arab Pegon mulai dikenal di Nusantara diperkirakan sejak abad 16, yang dipergunakan oleh ulama-ulama lokal untuk menulis karya tulis sebagai terjemahan atas kitab-kitab karya ulama terdahulu yang masyhur, yang dikenal sebagai Kitab Kuning. Dalam dunia pesantren tradisional, kemampuan membaca Arab Pegon ini adalah sebuah keharusan, karena kitab-kitab kuning yang diajarkan para Kyai kepada santrinya, semua memakai Arab Pegon. Di masa penjajahan Belanda, Arab Pegon ini ikut andil dalam perjuangan, sebagai bahasa sandi antar Kyai dalam penulisan pesan atau informasi penting. 

Saat ini Arab Pegon hanya dikenal di dunia pesantren tradisional yang masih tetap konsisten mengajarkan Kitab Kuning kepada para santrinya. Kondisi ini dikarenakan budaya salaf peninggalan ulama-ulama terdahulu ini, mulai kalah tergerus oleh budaya-budaya Barat dan Romawi. Beberapa peristiwa sejarah penting yang perlu kita ketahui yang memiliki andil besar untuk memunahkan Arab Pegon antara lain, 

Kekalahan Sultan Hamid II atas Mustafa Kemal Atatürk.

Setelah menjadi Presiden pertama Turki pada tahun 1923, Mustafa Kemal Atatürk yang berfaham sekuler mulai melakukan reformasi dalam segala bidang yang berhubungan dengan budaya Islam, salah satunya pada tahun 1924  memerintahkan untuk mengganti semua tulisan Arab dengan tulisan Latin. Hal ini secara tidak langsung melunturkan kemampuan menguasai bahasa Arab pada generasi berikutnya. 

Kongres Bahasa di Singapura Tahun 1950

Dalam Kongres Bahasa di Singapura pada tahun 1950 tersebut melahirkan resolusi yang semakin menguatkan untuk mengganti penggunaan tulisan Arab dengan Latin dengan alasan modernisasi. Saat itu penggunaan Arab Pegon cukup populer dalam budaya Melayu, dengan hasil resolusi tersebut mau tidak mau kebiasaan menggunakan Arab Pegon menjadi luntur dan makin ditinggalkan dari generasi ke generasi berikutnya.

Almarhum Mbah Moen atau KH. Maimun Zubair pengasuh Pondok Peaantren Al Anwar, Sarang, Rembang dalam Kongres Ijtima Ulama Nusantara ke-2 di Malaysia beliau menyampaikan bahwa tradisi salaf saat ini mulai dilupakan kalangan muslim, pesan beliau meminta umat muslim untuk terus melestarikan Arab Pegon. Karena andilnya Arab Pegon dalam syiar dan penyebaran agama Islam di Nusantara pada khususnya cukup besar, pun dalam perjuangan para Kyai melawan penjajahan Belanda. Melestarikan penggunaan Arab Pegon, juga akan melestarikan kitab-kitab klasik yang menjadi referensi umat islam dalam memahami ajaran Islam. 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar